Pedagogi Pendidikan untuk Anak Muda Jaman NOW



Sebuah karya besar tidak lahir begitu saja. Ada spirit yang dihidupi dan menjadi roh yang menggerakkan sehingga lahirlah karya besar itu. ATMI Surakarta adalah karya monumental anak bangsa, meskipun tersembunyi dari khalayak namun memiliki andil besar dalam pembangunan Indonesia, khususnya dalam mengawal perkembangan industri di Indonesia. Ada semangat magis yang senantiasa menghidupi gerak para pemimpin dan dosen/instruktur di kampus ini sehingga mereka bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkarakter.

Ada lima pilar nilai yang menjadi soko guru kampus ini: yakni disiplin, jujur, tanggung jawab, kerja keras, dan inovatif. Lima pilar nilai ini yang harus menjadi karakter dasar mahasiswa ATMI. Ini bukan hanya sebuah slogan yang menggaung indah di ruang pikir mahasiswa, tetapi harus dibadankan dan menjadi karakter dasar mahasiswa sehingga seluruh aspek kehidupannya mengacu pada lima nilai dasar ini.

Bagaimana nilai-nilai ini menjadi keutamaan unggul yang terbadankan dalam diri seluruh mahasiswa ATMI? Mahasiswa harus berjuang keras untuk menggapainya dan dibutuhkan kerja keras yang efektif bagi para tenaga pendidik. Untuk mentransformasi mahasiswa supaya bisa memeluk dan menghidupi kelima nilai dasar itu dibutuhkan sebuah pendekatan pedagogis yang harus diterima dan disukai oleh mahasiswa. Berkat usahanya yang pantang menyerah melalui laku hidup seharai-hari di kuliah praktik bengkel maupun kuliah teori dan berkat bantuan penuh kasih sayang dari para instruktur, ternyata menjadikan mahasiswa mampu memformat dirinya menjadi manusia unggul. Ketika lulus mereka memiliki karakter yang bersumber dari kelima nilai dasar tersebut.

Dalam konteks inilah pedagogi memiliki peran pentingnya dan instruktur sebagai formator memiliki kesempatan seluas-luasnya untuk membentuk karakter mahasiswa melalui pedagogi yang diterapkan. Dialektika hubungan dan kepentingan antara mahasiswa dan instruktur inilah yang nantinya mentransformasi mahasiswa menjadi pribadi yang diharapkan oleh ATMI.

Dalam bedah buku yang menghadirkan empat pembicara, Bobby Pr, penulis buku, Sutimin (Karyawan PT. Bizdec dan mantan instruktur ATMI), Paulus Napitupulu (perwakilan industri) dan Rm. T. Agus Sriyono (Direktur Politeknik ATMI Surakarta) dan dihadiri oleh peserta yang meliputi alumni ATMI, instruktur dan karyawan ATMI, guru-guru SMK di Solo Raya dan sekitarnya, serta mahasiswa ATMI dan siswa SMK Mikael, tema pedagogi ini hangat diperbincangkan. Bedah buku ini diadakan di Kampus 1 Politeknik ATMI Surakarta pada hari Sabtu, 1 September 2018.

Bagaimana pedagogi itu dijalankan untuk sekolah vokasi? Berikut adalah pokok-pokok pedagogi yang berkembang dalam kegiatan bedah buku ini, yang tentu saja mengacu pada pengalaman di ATMI:

  1. Melalui proses yang benar. Teknik memiliki budaya kerja tesendiri. Proses belajar pada sekolah teknik harus menggunakan logika teknik. Tahapan-tahapan dalam proses belajar harus benar. Briefing, pembuatan Work Preparation (WP), pengerjaan benda kerja, pengukuran benda kerja dan penilaian merupakan langkah atau proses yang harus dijalani. Semua harus dilaporkan. Melalui proses yang benar ini mahasiswa dimampukan mengerjakan benda kerja dan dijauhkan dari kesalahan yang tidak perlu. Proses yang benar memberi hasil yang benar. Biasanya proses tidak akan mengkhianati hasil. Maka pertama-tama mahasiswa harus diajarkan proses dan cara yang benar.
  2. Supervisi. Sekolah teknik memiliki tiga capaian penting: kecerdasan pikiran, kecerdasan motorik dan kecerdasan hati. Cerdas secara pikir berarti menguasai bidang keilmuan yang dipelajari. Cerdas motorik adalah kemampuan mahasiswa dalam menggunakan tangan dan mesin dalam membentuk benda kerja. Cerdas secara hati adalah kehati-hatian dalam bekerja, yang ditandai dengan tidak adanya kerusakan pada benda kerja atau alat yang digunakan. Untuk mencapai level itu setiap mahasiswa harus memegang satu mesin. Tujuannya jelas supaya pekerjaan mahasiswa terukur dan setiap mahasiswa mendapatkan supervisi secara personal. Supervisi ini pada prinsipnya akan mengurangi tingkat kesalahan mahasiswa. Melalui supervisi ini instruktur bisa melihat apakah proses belajar yang dilakukan mahasiswa benar, apakah mahasiswa melalui tahapan-tahapan yang benar dan mampu mencapai level yang ditargetkan.
  3. Modeling & Guiding. Supervisi juga memberikan rasa aman dalam diri mahasiswa ketika mereka bekerja. Dalam kegiatan supervisi, instruktur juga bertindak memberikan contoh dan solusi. Contoh ini nilainya penting sekali, karena melalui contoh inilah mahasiswa mengerti bahwa apa yang mereka kerjakan bisa diselesaikan. Kesanggupan instruktur mengerjakan benda kerja itu bagi orang-orang muda juga memberikan inspirasi kepada mereka. Aspek psikologisnya adalah mahasiswa tertantang untuk mencapai tahap seperti yang dicontohkan instruktur. Supervisi itu modeling dan guiding, pendampingan dan pembimbingan.
  4. Optimalisasi sumber daya manusia dan sumber daya teknologi. Agar terjadi proses pembelajaran yang efektif, optimalisasi terhadap sumber daya manusia dan sumber daya teknologi harus dilakukan. Dalam konteks optimalisasi sumber daya manusia, instruktur memiliki tugas dan tanggungjawab utama membimbing dan mendampingi mahasiswa, melalui proses supervisi. Itulah sebabnya Romo Casutt, selaku pimpinan selalu menegur bila ada dua orang instruktur atau lebih berkumpul di kantor dan meninggalkan mahasiswanya. Beliau selalu mengatakan: “Mengapa kamu ada di sini, mahasiswamu membutuhkan bantuanmu.” Sedangkan optimalisasi sumber daya teknologi adalah memanfaatkan sarana teknologi yang ada secara maksimal. Jika ada mesin yang nganggur itu dianggap tidak efisien. Mesin harus dijalankan. Jika mesin rusak harus segera diperbaiki agar produktif.
  5. Ketuntasan. Meski proses itu penting, tetapi hasil juga menjadi tujuan yang harus dicapai. Itu artinya mahasiswa harus tuntas. Implikasinya jelas, yakni:
    • Remidi. Jika mahasiswa belum mencapai kualifikasi tertentu maka harus diberi latihan lagi. Sutimin menyebutnya sampai tuju kali pengulangan/remidi. Demi alasan ketuntasan juga, seluruh mahasiswa yang tidak masuk harus mengganti jam minus yang tidak dihadiri supaya tidak kehilangan ilmu yang seharusnya diterima.
    • Kompensasi. Pekerjaan dikatakan benar jika hasilnya memenuhi ukuran yang ditentukan dan alat yang digunakan tidak rusak. Jika pekerjaan memenuhi tuntutan ukuran tetapi alat yang digunakan rusak, atau benda kerja rusak maka mahasiswa mendapatkan kompensasi. Kata kompensasi ini meski terdengar negatif tetapi nilai dasarnya sangat positif. Kompensasi adalah kemurahan hati ATMI dengan memberikan tambahan jam belajar secara gratis supaya mahasiswa qualified. Oleh karena itu kompensasi harus disyukuri.
    • DO. Setelah mahasiswa melalui proses remidi namun tidak mampu mencapai ukuran yang ditentukan ATMI maka mahasiswa tersebut dinyatakan DO. Kata DO untuk saat ini terdengar menyeramkan. Tetapi dalam sejarahnya, DO itu merupakan sebuah keputusan bahwa mahasiswa tidak mampu mempelajari bidang teknik sesuai tuntutan institusi. ATMI akan memberikan surat pernyataan dan mencarikan pekerjaan. Mahasiswa menyadari bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Sutimin menyatakan bahwa ada mahasiswa yang senang bila di-DO, karena mereka akan mendapatkan pekerjaan lebih cepat dibanding teman-temannya yang harus menunggu sampai tiga tahun. Dari teman-temannya yang DO tersebut kebanyakan saat ini menjadi pengusaha. Do ini diberikan dalam setiap jenjang atau tingkat, bahkan ketika tingkat 3 tidak lulus hanya akan diberi surat keterangan tamat bukan lulus.
    • Pemberian Waktu. Ketuntasan itu menjadi tuntutan mutlak. Oleh karena itu setiap materi ajar harus diberi waktu yang cukup. Jika tidak ada waktu yang cukup maka materi itu tidak usah diberikan. Lebih baik belajar satu dua materi tetapi mendalam, daripada belajar banyak materi tetapi tidak paham dan tidak mendalam. Itulah sebabnya mengapa waktu libur di ATMI itu sedikit, istirahat juga sedikit. Tujuannya supaya mahasiswa mencapai ketuntasan. Ketika ditanya tentang aturan pemerintah yang mengurangi waktu pembelajaran di sekolah menengah Muhdi, kepala SMK Mikael Surakarta memberi jawaban bahwa siswa harus diberi waktu yang cukup, tidak boleh ada pengurangan jam tatap muka. Jika ada kebijakan pemerintah yang mengurangi jam kompetensi, maka siswa wajib mendapatkan jam yang seharusnya. Problemanya, kadang tambahan jam ini bagi pegawai negeri tidak dihargai oleh pemerintah, tidak dihitung alias tidak memiliki nilai ekonomis, bahkkan guru bisa disalahkan karena melebihi jumlah jam mengajar yang ditentukan. Muhdi dan Sutimin memberi jawaban yang intinya sama: “Jangan kurangi jam siswa/mahasiswa. Kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak dibayar tidak apa-apa. Laporkan jam sesuai prosedur yang diminta, tetapi berikan jam sesuai kebutuhan siswa didik, karena kita tidak hanya bertanggung jawab pada pemerintah, tetapi terlebih pada siswa/mahasiswa dan pada industri pengguna lulusan.” Ketidaktuntasan pada materi ajar karena faktor dikuranginya jam belajar berakibat sangat fatal. Pertama siswa/mahasiswa tidak tuntas, dan kedua, sebagai dampaknya, industri akan menolak atau mengeluarkan alumni dari perusahaan karena dianggap tidak memiliki kualifikasi yang dibutuhkan industri. Jadi upaya untuk mengurangi jam belajar itu akan merugikan siswa/mahasiswa, serta menurunkan kepercayaan industri pada sekolah. Namun memberi jam lebih juga tidak tepat. Itulah sebabnya pekerjaan mahasiswa yang melebihi target waktu akan dikurangi nilainya. Pengurangan nilai ini akan memacu mahasiwa bekerja lebih cepat. Ini melatih sikap tanggung jawab, disiplin dan kerja keras.
    • Membangun hubungan dengan industri & Teaching Factory. Istilah teaching factory sepaham dengan PBET (production based on Educational and Training). Sekolah vokasi adalah sekolah yang mahal, karena media belajarnya adalah benda kerja. Dan benda kerja ini biasanya habis pakai. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dengan dunia industri atau memiliki industri di dalam. Jika mahasiswa bisa berpoduksi itu akan mengurangi beban pembiayaan mahasiswa. Dalam konteks di ATMI di section kerja bangku/ngikir, Sutimin membuat model pembelajaran yang diadobe dari pimpinan ATMI. Untuk section ngikir, Sutimin membagi section itu menjadi tiga kelompok, sesuai dengan tahapan pembelajaran di ATMI. Ngikir depan merupakan murni latihan, tujuan utamanya adalah menjadikan mahasiswa kompeten. Level ini disebut laboratore. Ngikir kedua adalah ngikir tengah. Intinya adalah mahasiswa mengerjakan produk pesanan industri. Di level ini latihan mahasiswa sifatnya sudah self-finance, bisa membiayai sendiri. Mahasiswa membayar latihan dengan hasil yang didapatkan mahasiswa dari mengerjakan benda kerja pesanana industri. Level ketiga adalah product development, ini merupakan ngikir dalam. Tugas utamanya adalah assembling. Di level ini hasil dari assembling bisa digunakan untuk membayar biaya latihan yang dilakukan di level laboratore. Dalam konteks inilah teaching factory mendapatkan bentuknya yang nyata. Dan untuk memenuhi itu, harus ada kerjasama dengan industri yang bisa memberikan pekerjaan kepada mahasiswa. Selain itu ada nilai pedagogis yang bisa dikenalkan pada mahasiswa. Setelah melalui level laboratore, minggu berikutnya mahasiswa harus bergeser ke level berikutnya. Namun apabila belum mencapai kualifikasi di level laboratore, mahasiswa diberi pekerjaan level laboratore tetapi mengerjakan latihan itu di ngikir tengah. Ketika mahasiswa mengerti bahwa temannya sudah mengerjakan pekerjaan lain, hal ini akan mendorong mahasiswa untuk bertindak lebih maksimal. Capaian mahasiswa lain ini member inspirasi bagi mahasiswa yang tertinggal. Namun peran instruktur dibutuhkan untuk menjaga motivasi mahasiswa tersebut untuk mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan kecepatannya sendiri tanpa merasa terganggu dan frustrasi karena capaian mahasiswa lain yang lebih maju. Dengan pendampingan yang benar, kemajuan mahasiswa lain ini bisa menjadi pemacu semangat dan inspirasi bagi mahasiswa yang tertinggal. Bagi Sutimin, keberhasilan sebuah pembelajaran itu adalah ketika mampu meminimalisasi tingkat ketertinggalan mahasiswa. Dan fungsi utama seorang instruktur adalah membantu mahasiswa agar tidak tertinggal.
  6. Student Center. Dalam Pedagogi Ignatian yang dikembangkan di ATMI pusat dari pembelajaran adalah mahasiswa. Intsruktur ada untuk mendukung mahasiswa agar mampu mencapai level yang ditentukan oleh institusi.

Berdasarkan sharing dari berbagai pihak, pedagogi seperti tersebut di atas terbukti mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Pertanyaannya adalah apakah model pedagogi seperti tersebut di atas masih relevan untuk anak muda zaman now. Pertanyaan ini mengemuka karena ada sebuah anggapan bahwa anak muda zaman now cenderung kurang suka bekerja keras, mudah mengeluh, tidak tahan terhadap tantangan dan kesulitan, dll.

Menyitir pendapat dari seorang peserta bedah buku, sekaligus moderator, John Prasojo, membuat pertanyaan analogis, apakah Kitab Suci harus diubah ketika dianggap tidak cocok untuk orang zaman now? Tidak. Yang dianggap baik, misalnya 5 pilar nilai yang sejak awal ditanamkan dalam diri mahasiswa tidak boleh di-downgrade. Standar nilai juga tidak boleh di-downgrade. Standar tidak boleh diturunkan demi menaikkan tingkat kelulusan mahasiswa.

Bedah buku yang dihadiri 200-an peserta itu ditutup dengan pembacaan kutipan: “cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tetapi dengan menguatkan jiwamu, sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tidak menyerah”. ***


08 Sep 2018 | by Yohanes Budi Prasojo