Seminar Islamologi



SEMINAR ISLAMOLOGI

MUSLIM – KATOLIK  MEMPERKOKOH KEBANGSAAN

 

Kegiatan seminar dilaksanakan di Politeknik ATMI Surakarta, dihadiri lebih kurang 200 peserta yang terdiri dari para Romo kolese Mikael, Pastor dan Mahasiswa dari Pastoran Mahasiswa, Pastor Paroki Purwosari, Suster dari SMA Ursulin, dosen/instruktur ATMI Surakarta, guru-guru SMK Mikhael dan beberapa guru dari sekolah Katolik sekitar ATMI. Dalam sambutannya, romo Agus Sriyono menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah direncanakan lama, hanya saja Rm. Greg Sutomo sebagai pembicara baru bisa memiliki waktu saat ini. Dijelaskan bahwa Serikat Yesus memiliki empat kriteria bagaimana sebuah karya diambil:

  1. Karya itu terlibat dalam mengurangi kemiskinan
  2. Terlibat dalam pemeliharaan keseimbangan alam
  3. Mendukung kebinekaan
  4. Memeluk dunia digital

Terkait dengan opsi mengembangkan kebinekaan, maka kegiatan seminar Islamologi ini dilaksanakan. Diharapkan dengan kegiatan ini kita bisa mengembangkan iman kita dalam perspektif iman lain, sekaligus ingin mengetahui bagaimana perspektif iman lain dari perspektif iman kita. Tujuannya adalah supaya kita bisa mengembangkan kerukunan dalam kebinekaan sehingga bisa memperkokoh kebangsaan.

GREG SOETOMO S.J., Ph.D adalah seorang pastor Jesuit, Lecturer, Assistant Professor of Asian Religions di East Asian Pastoral Institute Ateneo de Manila University. Beliau mempelajari Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah, Ciputat, Tangsel.

Kegiatan yang dimoderatori oleh H. Prin Pujianto ini berjalan selama 3 jam. Banyak informasi yang disampaikan oleh Rm. Greg Sutomo.  Ada 5 topik yang dibahas romo Greg dalam seminar ini, yaitu topik yang berkaitan dengan:

  1. Kebinekaan (kesatuan dalam kebinekaan)
  2. Toleransi
  3. Inklusif dan Pluralis
  4. Inkulturasi
  5. Visi politis: 100% Katolik, 100% Indoesaia.

Jika menyebut Islam, pertanyaan langsung mengarah ke Islam yang mana, karena ada pandangan bahwa Islam itu banyak. Demikian juga jika menyebut agama kristen, yang dimaksud Kristen yang mana, karena  Kristen itu banyak. Mendapatkan pertanyaan seperti ini, Romo Greg menjelaskan bahwa  Islam dan kristen itu satu, tetapi ekpsresinya banyak. Ada Syiah ada Suni, ada Kristen Protestas dan Katolik.

Dalam agama Kristen, jauh setelah Yesus meninggal, iman akan Yesus Kristus berkembang menjadi beberapa aliran. Dalam Islam, setelah kanjeng Nabi muhammad  meninggal pada tahhun 632, terdapat sebuah pertanyaan besar siapa yang akan meneruskan nabi Muhamad, maka lahirlah dua aliran besar dalam islam. Kelompok yang menekankan pada garis keturunan, menyebut diri Syiah, sementara yang menekankan pada leadership (kemampuan memimpin) disebut Suni. Perbedaan di atas, jika mau disebut demikian, tidak perlu diperdebatakan lagi. Keduanya merupakan satu iman hanya mempunyai cara ekspresi yang berbeda-beda.

Tentang toleransi romo Greg menyatakan bahwa semua agama berbicara tentang toleransi. Memang ada yang berpendapat bahwa pengikut agama itu cenderung ekslusif dan tidak bisa bertoleransi. Harus disadari bahwa Tuhan semua orang beriman adalah sama, meskipun penjelasan tentang Tuhan dalam setiap agama selalu berbeda. Kita sedang berjiarah menuju Tuhan yang sama.

Terkait dengan maraknya kekerasan dalam agama, Romo Greg mengatakan bahwa  tidak ada kekerasan dalam agama, meskipun ada ayat-ayat pedang yang sifatnya keras. Kalo terjadi kekerasan dalam agama sebenarnya itu bukan agama, tetapi kodrat yang lain, power misalnya, sebab dalam setiap agama selalu ada power. Power inilah yang semestinya dikendalikan agar tidak terjadi kekerasan dalam agama. Paus Fransiskus sendiri menyatakan bahwa tidak ada kekerasan dalam Islam. Jika bicara kekerasan dalam islam, maka kita juga harus berbicara kererasan dalam katolik. Semua agama tertantang untuk mengendalikan kekerasan dalam agamanya.

Sebenarnya ada empat model pertemuan antara agama satu dengan agama lain:

  1. Pertemuan teologis
  2. Pertemuan aksi
  3. Perjumpaan dalam kehidupan sehari-hari
  4. Pertemuan dalam pengalaman iman

Tiga pertemuan terakhir bisa digunakan sebagai ajang membangun kerukunan antar umat beragama. Pertemuan antar umat beragama bila masuk ke pertemuan model pertama akan menciptakan konflik horisontal karena di level ini akidah masing masing agama berbeda.


21 Dec 2018 | by Yohanes Budi Prasojo