Login

POLITEKNIK ATMI

Competentia . Conscientia . Compassio

Bedah Buku Kediri: PENDIDIKAN HARUS TRANSFORMATIF

PENDIDIKAN ITU HARUS TRANSFORMATIF 
 
BEDAH BUKU Romo Casutt, SJ, Dalam Senyap Bangun Pendidikan Vokasi Indonesia
Wisma St. Yohanes Kediri
 
Jika ingin mengubah dunia, didiklah anak muda. Para Jesuit meyakini pernyataan itu sebagai sebuah kebenaran. Atas dasar pemahaman seperti itu, para Jesuit mengambil peran untuk mendidik orang-orang muda dan menyiapkan orang-orang muda ini untuk membuat perubahan di dunia. Kolese-kolese (College) dibangun di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Ada banyak kolese yang didirikan Jesuit di Indonesia, sebut saja Kolese Kanisius Jakarta, Kolese de Britto Jogjakarta, Kolese Loyola Semarang, Kolese Mikhael Surakarta, dan beberapa kolese lain.  
  
Pilihan karya untuk orang muda merupakan pilihan strategis. Tahun 2018, ATMI Surakarta genap berusia 50 tahun. Sudah banyak yang diluluskan oleh kampus ini. Para alumni tersebar di berbagai tempat. Sebagian besar bekerja di dunia industri, sebagian bekerja di dunia pendidikan. Peringatan 50 tahun itu ditandai salah satunya dengan peluncuran buku Romo Casutt, SJ, Dalam Senyap Bangun Pendidikan Vokasi Indonesia, sebuah biografi tentang Romo Casutt, SJ, tokoh besar di ATMI Surakarta. ATMI tidak bisa dipisahkan dari Casutt dan Casutt tidak bisa dipisahkan dari ATMI. Romo Casutt adalah representasi dari ATMI itu sendiri. Casutt adalah “roh” yang menjiwai ATMI sehingga institusi ini menjadi begitu fenomenal dalam menjawab tantangan zaman.
  
 

Dalam Bedah Buku Romo Casutt, SJ, Dalam Senyap Bangun Pendidikan Vokasi Indonesia, yang diadakan di Wisma Yohanes Puhsarang, Kediri, pada hari Sabtu, 17 Februari 2018, Bobby, Pr, penulis buku tersebut memaparkan secara gamblang bagaimana para Jesuit secara detail dan jenius memetakan tantangan bangsa Indonesia 50 tahun yang lalu. Indonesia yang mulai bergerak dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri membutuhkan tenaga-tenaga profesional di bidang teknik. Sayangnya perubahan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga ahli di industri. Kesadaran inilah yang melahirkan gagasan dan tindakan membuat sekolah teknik yang unggul dan bisa menjawab kebutuhan zaman waktu itu, yaitu melahirkan pekerja-pekerja profesional yang diharapkan mampu mengisi kekosongan-kekosongan tenaga ahli di dunia Industri. 
 
Bagi Casutt, pendidikan yang baik harus bersifat transformatif, mengubah perilaku orang-orang yang dididik. Dalam konteks ATMI Surakarta dan konteks zaman waktu itu, transformasi yang dimaksud adalah mengubah manusia tidak saja menjadi pekerja yang ahli di bidang teknik (memang ini hal pertama yang harus dicapai), tetapi sekaligus mengubah perilaku manusia teknik, yang dilengkapi dengan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, jujur, kerja keras, inovatif, magis (bertindak lebih, bukan asal-asalan alias minimalis). Nilai-nilai itu, yang dikerucutkan dalam tiga pilar, yakni Competence (ahli dalam bidangnya), Conscience (tanggung jawab moral) dan Compassion (tanggung jawab sosial pada sesama dan lingkungan hidup), bukan dikejar demi kemuliaan diri sendiri, melainkan demi semakin besarnya kemuliaan Allah. Inilah spiritualitas pendidikan yang ditanamkan Casutt dalam diri para mahasiswanya, dan terbukti menjadikan mereka hebat dalam dunia industri, tempat para alumni mengaktualisasikan dirinya. Alumni ATMI menjadi sebagian dari yang berada di garda terdepan pembangunan Indonesia, khas dengan nilai-nilai yang dibawanya.  
 
 
Sharing-sharing dari para alumni yang saat ini sudah bekerja dan mengelola industri, memberi bukti bahwa pendidikan yang dijalankan di ATMI sangat efektif, mampu menjawab kebutuhan zaman. Bp. Gabriel Cahyo Kuncara, alumnus ATMI Angkatan 28, melukiskan bagaimana susahnya mencari pekerjaan pada tahun 90an, namun semua alumni ATMI dicari dan dibutuhkan oleh perusahaan. Rasanya sangat kontradiktif dengan situasi zaman itu, namun hal itu bisa dimengerti karena lulusan ATMI bisa dipercaya oleh industri untuk menjalankan industri. Setelah saat ini beliau menduduki posisi sebagai salah satu manager di PT. Gudang Garam Kediri, bapak Cahyo bisa merasakan bahwa memang lebih enak dan percaya jika anak buahnya adalah adik-adik kelasnya yang pernah belajar di kampus yang sama. Ini bukan sebuah ekslusivisme sempit yang sangat primordial, melainkan sebuah bentuk penghargaan bahwa yang baiklah yang layak dipercaya.
 
 
Alumnus lain, Yudhi Sewandono, yang pada saat ini bekerja di PT. Karyadibya Mahardika, Pandaan, Jawa Timur merasakan bahwa energi positif yang dihidupkan ATMI pada dirinya ternyata cocok dengan energi industri. Kesamaan energi inilah yang memudahkan alumni ATMI beradaptasi dan berakselerasi dengan dunia industri. Beliau menyadari energi ini dibangun oleh sebuah spritualitas yang mendalam, yang digaungkan dan ditanamkan oleh ATMI kepada seluruh mahasiswanya. Oleh karena itu, menurutnya, nilai-nilai yang sudah mengakar dalam sistem pendidikan di ATMI Surakarta, harus dicari pondasinya dan dijaga keberlangsungannya, karena nilai-nilai itulah yang menjaga keberlangsungan ATMI. Bagi Yudhi buku Romo Casutt, SJ, Dalam Senyap Bangun Pendidikan Vokasi Indonesia adalah buku yang harus dibaca agar spiritualitas dan nilai-nilai dasariah yang ditanamkan di ATMI bisa diserap dan menghidupi spirit generasi yang tidak sempat mengenal secara langsung Romo Casutt, SJ.
 
Tantangan Masa Depan
 
Buku Romo Casutt, SJ, Dalam Senyap Bangun Pendidikan Vokasi Indonesia layak dibaca dan direnungkan karena memberikan sebuah paparan yang yang jelas tentang keberhasilan sebuah sekolah vokasi di Indonesia. Ketika banyak sekolah sibuk dengan akreditasi, ATMI justru meluncurkan buku dalam ulang tahunnya yang ke 50 tahun. Tidak lain dan tidak bukan karena buku ini bisa  menjadi pondasi untuk mengembangkan sekolah vokasi di Indonesia.   
 
50 tahun lalu, sebenarnya sekolah vokasi mendapatkan stigma yang kurang baik. Sekolah vokasi (kejuruan) dianggap sebagai sekolah buangan, sekolah nomor dua, sekolah yang muridnya suka berantem, dll. Paradigma seperti itu dijungkirbalikkan oleh sebuah fakta sejarah bahwa ATMI, sebagai salah satu sekolah vokasi, mampu menghasilkan lulusan yang unggul, tidak saja dalam bidang teknik, tetapi juga secara moral dan sosial. ATMI membawa perubahan nyata dalam peta kemajuan di Indonesia, khususnya di bidang Industri. ATMI adalah bukti bahwa sekolah vokasi model ATMI adalah solusi bagi bangsa ini.
 
ATMI boleh berbangga karena capaiannya, namun ada tantangan besar di depan yang harus dihadapi. Romo T. Agus Sriyono, SJ, Direktur Politeknik ATMI Surakarta, menjelaskan bahwa ATMI mendapat tugas dari Presiden Indonesia, Bp. Ir. Joko Widodo, agar ATMI mampu mengobarkan pendidikan vokasi di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa sekolah vokasi merupakan solusi untuk negeri ini dalam mengatasi pengangguran, yang jumlahnya ada di kisaran angka 10 jutaan. Sayangnya sekolah vokasi yang ada saat ini tidak menjadi solusi bagi negeri ini, bahkan menjadi masalah karena ikut andil menciptakan pengangguran bagi alumninya. Sungguh kontradiktif. Ada sekitar 91.000 sekolah vokasi yang tidak memiliki instruktur bengkel. Realitas ini sangat menyedihkan, bagaimana mungkin sekolah kejuruan tetapi tidak memiliki tenaga yang expert di bengkel. Sharing dari seorang alumnus, bapak Agustinus (UCC Pasuruhan),  yang pernah merekrut calon tenaga kerja dari sekolah vokasi, sangat mengejutkan, karena lulusan sekolah teknik tersebut selama tiga tahun belajar di sekolah kejuruan ternyata hanya belajar merangkai lampu sign. Jika demikian adanya, bagaimana mungkin sekolah vokasi bisa menjadi solusi bagi bangsa ini?
 
Pesan bapak presiden untuk Romo Agus agar ATMI menyiapkan instruktur bengkel untuk sekolah kejuruan dan kampus teknik di Indonesia, memiliki implikasi yang besar. Untuk menjawab tantangan itu, ATMI setiap tahun minimal harus meluluskan 1500an lulusan. Angka yang tidak kecil. Saat ini ATMI sudah membuka program D-4 (semacam S-1 terapan) untuk dua program studi, kelak bila lulus mereka bisa menjadi instruktur di sekolah kejuruan. Selain itu ke depannya ATMI akan membuka S-2 terapan, sehingga lulusannya bisa menjadi dosen di kampus teknik. 
 
Selain itu ada kebijakan pemerintah bahwa tenaga-tenaga pekerja teknik yang sudah lama bekerja di industri kedepannya bisa menjadi tenaga pendidik di kampus atau sekolah vokasi. Ini sebuah berita bagus, baik bagi para pekerja maupun sekolah vokasi. Pemerintah sudah mensounding kebijakan RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau), sebuah bentuk penghargaan kepada orang-orang yang lama berkecimpung di industri. Keahlian mereka mengelola industri bisa digunakan untuk mengajar di sekolah atau kampus teknik. Kebijakan ini sekarang masih digodog oleh pemerintah. Jika kelak kebijakan ini dijalankan, kekurangan instruktur bengkel di sekolah dan kampus teknik bisa diatasi. Dampaknya akan sangat besar, karena sekolah vokasi bisa melompat ke keunggulan dari sekolah yang menciptakan masalah menjadi sekolah yang menjadi solusi bagi bangsa ini. Semoga!
 
john  prasojo
ATMI surakarta