Login

POLITEKNIK ATMI

Competentia . Conscientia . Compassio

Kuliah Bukan Untuk Kerja

ATMI itu aneh. Kalian tahu obat maag yang dikunyah? Rasanya manis bukan? Ada seorang penjual obat maag. Dia menjual obat maag itu karena keampuhannya menyembuhkan penyakit maag. Suatu ketika datang seorang pembeli ingin membeli obat maag tersebut. Si penjual basa-basi bertanya kepada pembeli,

animus

“Sakit maag ya mas?”

Pembeli menjawab, “Oh, tidak Pak, saya tidak sakit maag”

Penjual kembali bertanya, “Lho, lalu kenapa membeli obat maag kunyah saya?”

Pembeli menjawab, “Obat maag punya Bapak rasanya manis, saya suka.”

Kurang lebih demikian ceramah dari seorang ibu yang bekerja di Bizdek kepada saya. Beliau, sebut saja ibu Bizdek, mengatakan penjual obat maag adalah pengandaian ATMI dan sang pembeli ada sebagian besar Mahasiswa ATMI. Ada suatu ketidak-singkronan di sini. Di satu sisi si penjual ingin menjual obat maagnya untuk menyembuhkan sakit maag, tetapi di sisi lain si pembeli malah ingin membeli obat maag tersebut karena rasanya yang manis. ATMI juga demikian. Di satu sisi ATMI menawarkan pendidikan, di sisi lain Mahasiswa ATMI masuk ke ATMI karena ingin mendapatkan pekerjaan. Yang terjadi berikutnya adalah, mahasiswa menjadi tidak fokus pada ilmu yang mereka geluti, melainkan cenderung kuliah di ATMI – mencari nilai sebagus-bagusnya – lulus dari ATMI dengan predikat baik sehingga bisa bekerja di perusahaan ternama – hidup makmur. Bagi kami, saya dan ibu Bizdek, kondisi ini sangat memprihatinkan.

Saya menyadari ada suatu kesalah-kaprahan antara mahasiswa dengan ATMI. Banyak mahasiswa ATMI yang masuk ke ATMI karena ingin cepat mendapat pekerjaan. Siapa dari kalian di sini yang kuliah di ATMI karena benar-benar mencintai bidang studi yang dipelajari?, bukan karena ingin cepat mendapatkan pekerjaan? Saking ingin cepat mendapat pekerjaan, mereka sampai lupa bahwa ATMI adalah institusi pendidikan. Sehingga, dugaan saya, fakta bagi kebanyakan mahasiswa ATMI adalah sebagai berikut : ada 2 titik kritis bagi ‘mereka’, yang pertama adalah saat mengikuti TES SPMB ATMI. Yang kedua adalah kompetensi dan semua kegiatan bengkelnya selama tingkat satu. Sehingga proses berikutnya, tingkat2 dan tingkat 3, menjadi terbengkalai.

Ketika kedua titik kritis tersebut sudah mereka lampaui, mereka melupakan esensi dari suatu perkuliahan. Dimana esensi dari suatu perkuliahan adalah proses belajarnya, proses mendapatkan ilmu, bukan proses mendapatkan nilai sebagus-bagusnya agar bisa bekerja di perusahaan besar.

Mahasiwa sering tergiur dengan iming-iming pekerjaan yang enak yang ditawarkan.

Saya masih ingat kata-kata Romo Andre saat Talk Show di Fun party lalu. Beliau mengatakan, ATMI sebagai institusi yang didirikan oleh Serikat Jesuit memiliki visi dan misi yang sama. Jesuit yang saat ini sedang prihatin dengan generasi muda memiliki misi untuk menghasilkan pribadi generasi muda yang sejalan dengan motto “Men and Women with and for others”. “ATMI tidak mendidik kalian(mahasiwa ATMI) untuk menjadi orang kaya, memiliki perusahaan besar yang sukses, menjadi ahli teknik hebat, bisa menciptakan ini dan itu. ATMI mendidik kalian dengan harapan kalian bisa berguna bagi sesama dengan kemampuan yang kalian punya, memiliki jiwa sosial yang tinggi, berkontribusi sebesar-besarnya bagi sesama.”

Sekarang, siapa dari kalian yang merasa sudah satu visi dengan perkataan Romo Andre tersebut? Kalau tidak ada, maka dapat saya katakan bahwa pendidikan di ATMI telah gagal. Jika dibandingkan dengan pembahasan paragraf sebelumnya, dapat terlihat jelas permasalahannya. ATMI memiliki visi dan misi yang berbeda dengan Mahasiswa ATMI. Mahasiswanya saja masih egois memikirkan kepentingan pribadi untuk cepat mendapatkan pekerjaan, gaji besar, sejahtera, dan tetek bengek lainnya, bagaimana mau memikirkan nasib sesama?

Satu poin yang sangat penting adalah “Kuliah bukan untuk bekerja”. Gunakan kegiatan perkuliahan sepenuhnya untuk belajar, jangan disia-siakan. Jangan satukan konsep antara pekerjaan dan perkuliahan.

Saya akan mengakhiri opini ini dengan memberikan pengertian mengenai kegiatan berkuliah dan akademi.

ber·ku·li·ah v 1 menerima kuliah; 2 menuntut pelajaran di perguruan tinggi.

aka·de·mi /akadémi/ n 1 lembaga pendidikan tinggi, kurang lebih 3 tahun lamanya, yg mendidik tenaga profesional: -- militer; -- seni rupa; 2 perkumpulan orang terkenal yg dianggap arif bijaksana untuk memajukan ilmu, kesusastraan, atau bahasa.

Pesan saya, pahami dan sadari dengan sungguh tujuan utama dari kegiatan perkuliahan dan apa itu akademi (bagi yang merasa belum memahami dan menyadari). ATMI adalah akademi, bukan biro jodoh antara Mahasiwa dengan Perusahaan-perusahaan besar di Indonesia! Mari kita mulai dengan tidak lagi mempromosikan ATMI dengan iming-iming pekerjaan yang didapat setelah itu, melainkan karena pendidikannya yang lengkap dan pelajaran humanitas Ignasian yang diterapkan. Bagi saya, yang ideal adalah kuliah untuk belajar, mendapatkan ilmu, ilmu yang sungguh kalian sukai. Kuliah bukan untuk semata-mata mencari jalan termudah mendapatkan pekerjaan.

Terakhir, semua yang tertulis disini adalah opini saya. Pada dasarnya tidak ada kata benar atau salah dalam sebuah opini, namun saya meminta maaf jika ada dari antara rekan-rekan yg tidak berkenan dengan tulisan saya. Mari angkat bicara!! J

 

Salam perubahan..

 

Agustinus Gunawan Riyadi

-animus-