KUNJUNGAN ORANG TUA MAHASISWA



MENYIAPKAN GENERASI YANG BAHAGIA

Politeknik ATMI Surakarta, sebagai Politeknik terbaik di Indonesia, memiliki model pendampingan personal atau Cura Personalis. Setiap mahasiswa memiliki latar belakang, cita-cita, ruang bertumbuh, budaya dan mindset dan pemikiran yang berbeda-beda, oleh karena itu membutuhkan pendampingan personal agar proses pendampingannya tepat sasaran. Memang pendampingan di ATMI Surakarta pertama-tama bersifat kolektif, tetapi hal itu tidak mengabaikan pendampingan personal bagi yang membutuhkannya. ATMI berkomitmen menciptakan generasi muda yang bahagia, generasi yang terbebas dari masalah-masalah pribadi dan sosial yang mengganggu hidup mereka di kemudian hari.

Melibatkan Orang Tua dalam Proses Pembelajaran

Untuk mendukung proses pendampingan seperti tersebut di atas, pendamping perlu mengenal lebih detail dan lebih mendalam siapa  mahasiswanya, sehingga bisa memberikan pembinaan dan pendampingan yang tepat. Untuk itu, orang tua mahasiswa juga dilibatkan dalam proses pembinaan dan pendampingan mahasiswa. Tentu bukan sebagai konselor, tetapi sebagai narasumber tentang anak-anaknya. Di ATMI, setiap tahun ada hari khusus untuk mempertemukan orang tua dengan mahasiswanya.  Kegiatan itu disebut  Open House, dimana orang tua datang ke kampus dan melihat anak-anaknya praktik di bengkel atau menjalani perkuliahan teori di ATMI. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan pada orang tua sistem pembelajaran di ATMI, sehingga orang tua bisa mendukung anak-anaknya sesusai kemampuan dan kapasitasnya.

        

       

Model pendidikan seperti ini tidak murah,  dan mungkin tampak kekanak-kanakan, tetapi ternyata sangat baik bagi pertumbuhan mahasiswa untuk kegiatan perkuliahan maupun untuk konteks interaksi interpersonal mahasiswa dengan orang tua dan keluarganya. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kehebatan personal individu. Kehebatan kolektif suatu kelompok tidak mungkin terjadi jika tidak ada kehebatan personal masing-masing individu dalam kelompok itu. Untuk itulah diperlukan pendampingan personal.

 


16 Dec 2019 | by Yohanes Budi Prasojo