LEADERSHIP 2



Menyembuhkan Hati Terluka

Kegiatan LEADERSHIP 2 merupakan kegiatan pembentukan karakter mahasiswa ATMI tingkat II. LEADERSHIP 2 merupakan lanjutan pelataihan soft skills yang sudah dimulai di tingkat I, LEADERSHIP 1. Jika fokus Leadership 1 adalah kemandirian dan pencapaian kemenangan pribadi, dimana setiap mahasiswa harus memiliki empat unsur mendasar ini: memiliki PARADIGMA Positif, memiliki sikap PRO AKTIF, memiliki VISI MISI dan memiliki MATRIK MANAGEMENT WAKTU, pada Leadership 2 tekanan pada capaian untuk menjadi pribadi yang selalu bersikap mengutamakan KEMENANGAN BERSAMA, dengan menciptakan Kesalingtergantungan dengan  orang/pihak lain.

                      

Ketika seseorang sudah mencapai level mandiri (INDEPENDEN), ia sudah memiliki perangkat untuk mencapai kesuksesan pribadi. Tanpa kemandirian, orang tidak mampu mencapai kemenangan pribadi, dan itu berarti hidupnya tidak akan pernah sukses. Oleh karena itu, setiap mahasiswa ATMI dibentuk agar menjadi pribadi yang secara personal mampu mencapai kesuksesan pribadi.

Setelah kemandirian terbentuk dalam setiap pribadi, di tingkat II seluruh mahasiswa ATMI dibentuk menjadi pribadi yang tidak hanya memikirkan diri sendiri atau sukses sendiri. Kesuksesan itu adalah milik bersama, milik semua orang, maka seluruh mahasiswa harus terlibat dalam kesuksesan orang lain, sesuai spirit dasar ATMI, COMPASSION. Mahasiswa harus mampu mencapai level INTERDEPENDENSI, alias memiliki sikap KESALINGTERGANTUNGAN dengan pihak lain. Dunia modern ditandai dengan model interaksi seperti ini, interdependensi. Dalam dunia Industri kesalingtergantungan ini mempercepat proses produksi dan melipatgandakan produktivitas.

INTERDEPENDENSI atau kesalingtergantungan ditandai dengan 4 hal besar berikut: mahasiswa memiliki sikap WIN-WIN dalam mengambil keputusan, memiliki EMPHATI kepada orang lain, mau berSINERGI dengan orang/instansi lain dan yang terakhir adalah selalu bersikap reflektif, mengkaji hidupnya terus-menerus. Tiga unsur penting dalam Interdependensi semuanya terkait dengan hubungan relasional dengan orang lain. Faktor hubungan relasional inilah yang diolah dalam kegiaitan Leadership 2.

Kegiatan Leadership 2 dibagi dalam dua proses yang dinamis. Pertama, adalah memperkaya kazanah keilmuan. Materi yang dipelajari adalah  materi yang terkait dengan hubungan relasional dengan orang lain. Proses kedua terkait dengan pemberesan “BANGUNAN KEPRIBADIAN” mahasiswa. Pola relasi yang dibangun mahasiswa dengan orang lain semasa hidupnya seringkali menimbulkan gesekan dan masalah yang serius dan itu mewarnai atau membentuk kualitas “Bangunan Kepribadian” mahasiswa tersebut.

Luka hidup atau pengalaman pahit di masa lalu, bukan saja merusak masa lalu seseorang. Jika tidak pernah disembuhkan, pengalaman pahit itu juga mempengaruhi perilaku manusia di kemudian hari. Hati yang terluka ini tidak saja memiliki paradigma negatif dalam hidupnya, tetapi energi negatifnya yang pernah terbangun di masa lalu, beresonansi dan mempengaruhi kehidupan manusia di kemudian hari. Tidak ada sebuah cara yang lebih baik selain meruntuhkan bangunan kepribadian yang pedih ini, lalu menatanya kembali dengan bangunan kepribadian yang baru, dengan cara menyembuhkan luka batin yang dimiliki mahasiswa, sebab luka ini seperti sampah hati, yang tidak saja berbau busuk, tetapi juga mengganggu kesehatan manusia.

Metode yang dipakai untuk menyembuhkan luka batin ini adalah metode MATRAS, sebuah metode penyembuhan LUKA BATIN yang dilakukan oleh orang yang mengalami kesakitan itu sendiri. Metode yang dipakai adalah dengan cara membuang energi negatif yang menguasai hati mahasiswa karena pengalaman pahit yang dialami mahasiswa tersebut menciptakan energi negatif dalam hati mereka. Agar energi negatif ini tidak membentuk paradigma negatif dalam diri mahasiswa, maka energi negatif ini harus diambil agar energi kebaikan saja yang tertinggal dalam diri.

Kegiatan Leadership 2 diikuti oleh seluruh mahasiswa tingkat II dan terbagi dalam tiga gelombang. Beberapa mahasiswa yang berhalangan hadir karena sakit dan kecelakaan diikutkan dalam gelombang berikutnya. Kegiatan ini diharapkan mampu membangun paradigma positif mahasiswa sehingga setiap mahasiswa tidak memiliki beban emosional ketika berelasi dengan orang lain. Ketika pribadi dibebaskan dari energi negatif, maka ia bisa menjadi berkat bagi orang lain, dan hubungan relasionalnya dengan orang lain akan memberi manfaat positif bagi orang lain. Dalam konteks seperti inilah sinergitas hubungan menjadi penuh makna dan setiap dari mahasiswa tidak akan menjadi beban bagi orang lain karena mereka sudah menjadi berkat bagi orang lain.


24 Apr 2019 | by Yohanes Budi Prasojo