RABU ABU



BERDAMAI DENGAN ALLAH

Misa Rabu Abu merupakan awal dimulainya masa Pra Paskah. ATMI dan SMK Mikael menyelenggarakan msia Rabu Abu sebagai bentuk reksa pastoral kepada seluruh anggota komunitas yang beragama Katolik. Ini merupakan pelayanan rohani kepada anggota komunitas. Misa dipimpin oleh romo direktur politeknik ATMI Surakarta. Dalam kotbahnya Rm. T. Agus Sriyono SJ menyampaikan gagasan yang sangat menarik dan original bagaimana selanjutnya kita menyikapi masa pra paskah ini. Berikut ini adalah kutipan dari kotbah yang beliau sampaikan.

     

MASA PRAPASKAH  adalah masa didamaikannya manusia dengan Allah. Yang utama adalah bahwa manusia menyediakan diri untuk didamaikan dengan Allah. Memang ada pertobatan dan itu ditandai dengan pengakuan dosa. Mengapa kita perlu didamaikan dengan Allah karena manusia itu rapuh. Indikatornya adalah kita gampang sakit, kita seringkali malas, kecewa kalau pekerjaan di bengkel blong, stress dan ujung-ujungnya orang bisa sampai pada kematian. Dampak dari kerapuhan ini adalah kita tidak bahagia dan menjadi beban bagi orang lain sehingga tidak mampu menjadi men/women for and with others.

   

Alam pun juga rapuh terbukti adanya banyak bencana. Kalau alam berubah menjadi bencana maka itu berarti ada perilaku-perilaku manusia yang tidak sesuai dengan alam, sehingga alam sudah tidak menjadi ibu pertiwi tetapi menjadi sumber bencana bagi manusia. Ketika alam berubah menjadi sumber bencana, yang salah bukan alamnya melainkan manusianya, karena ada perilaku-perilaku manusia yang membuat alam ini tidak ramah kepada manusia, misalnya pembuangan sampah sembarangan, pembuangan plastik sembarangan, pembabatan hutan dan penggundulan gunung, dll. Itu semua yang menciptakan alam menjadi bencana, bukan sebagai ibu pertiwi yang menaungi manusia.

     

    

Kamu diciptakan dari debu dan akan kembali menjadi debu

Manusia senang dengan kerapuhannya. Kita mempunyai sport centre tetapi tidak pernah digunakan, kita suka berpikir yang buruk, menciptakan prasangka-prasangka, menyebarkan berita bohong, demikian juga hati dan jiwa kita, dimana kita tidak mampu memotivasi diri dan hidup kita lebih didominasi oleh perasaan jengkel dan kelakuan tidak baik. Dalam konteks inilah bertobat berarti saya siap dipakai oleh Allah menjadi kepanjangan tanganNya untuk menyempurnakan dunia ini. Dalam KitabKejadian memang dikatakan bahwa Tuhan menciptakan bumi ini semua baik adanya dan selesai pada hari ke 7, tetapi itu bukan berarti bahwa karya penciptaan itu sudah tuntas. Proses penciptaan berjalan terus karena belum sempurna dan karenanya Allah bertujuan mengajak kita semua semua untuk menyempurnakan bumi ciptaanNYa.

     

Munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat hidup kita lebih mudah, merupakan usaha manusia dalam menyempurnakan karya penciptaan Allah. Dan dalam dunia seperti inilah kita tidak boleh menghalangi Allah ketika Allah ingin menjadikan kita sebagai sahabatNya. Kita harus menyesuaikan diri untuk menjadi temanNya dalam menyempurnakan dunia ini. Sebaliknya saya berdosa ketika saya menghalang-halangi Allah menjadikan saya partnerNya dalam menyempurnakan dunia ini. Saya berdosa ketika saya tidak mau menggunakan talenta-talenta yang saya punyai untuk tujuan kebaikan tetapi justru untuk menciptakan hoax yang menghancurkan orang lain dan isu-isu yang merusak.

Rabu Abu ini kita diajak untuk menyadari bahwa kita manusia yang terhormat, manusia yang bermartabat, karena kita adalah sahabatNya. Dan itulah kehebatan Allah, dimana Ia menghargai kita sebagai sahabatNya. Immanuel, Allah beserta kita berarti Allah menyediakan diri agar kita bekerja sama bersama dengan Dia, dan dalam diri Yesus kita melihat manusia yang menyediakan diri untuk menjadi kepanjangan tangan Allah. Ia menyembuhkan orang yang sakit, menemani yang terkucil, menghidupkan orang yang mati dan mengusir roh jahat. Tindakannya merupakan petunjuk bahwa diriNya bersedia didamaikan dengan Allah Bapa dan bahwa Dia bersedia untuk menjadi partner Allah dalam menyempurnakan dunia ini.

 

Definisi kehidupan adalah kita menghirup nafas. Dalam konteks ini ketika manusia itu hanya hidup dan tidak menghirup nafas ilahi maka ia hanya menjadi seonggok daging yang tidak berguna, tetapi ketika kita menghirup nafas Allah, maka manusia berubah menjadi pribadi yang bermartabat dan mulia. Pesan penting untuk kita adalah jadilah insan teknik yang sehat, yang bisa memberi kontribusi pada dunia ini, pada teknik, pada industri dan sebagainya. Namun hal itu bisa terjadi kalau kita menyadari diri kita sebagai orang yang berguna dalam menyempurnakan dunia ini.

 


11 Mar 2019 | by Yohanes Budi Prasojo