TEMU WICARA ORANG TUA WISUDAWAN ATMI 49



Malam menjelang Wisuda, ATMI selalu menggelar kegiatan Temu Wicara antara industri dan orang tua wisudawan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai sarana dialog antara orang tua wisudawan, kampus dan industri. Pada Temu Wicara orang tua Wisudawan Angkatan 49, hadir dari perwakilan Industri adalah Bp. Suwanto, alumni ATMI Angkatan 16, Direktur PT. Indonesia Stanley Electric dan Bp. Bambang, alumnus ATMI angkatan 28, wakil dari PT. Gudang Garam.

 

Selain pembicara dari perusahaan Stanley dan Gudang Garam, hadir sebagai pembicara lain adalah Bp. Y C Surip Hartono, S.Pd, orang tua wisudawan yang kedua putranya semua menuntaskan pendidikan di ATMI, dan Bp. Fx. Suryadi, Wadir IV Politeknik ATMI Surakarta.

Kegiatan Temu Wicara orang tua wisudawan ATMI 49 dan industri diadakan di Gedung Serba Guna, Kampus 1 ATMI Karangasem, pada hari Jumat, 13 September 19, dari pk 18.00 sd 21.00. Sebelum kegiatan Temu Wicara, orang tua wisudawan diajak untuk melihat Pameran Hasil Tugas Akhir (TA) Mahasiswa, khususnya TA yang direalisasikan.

Acara Temu Wicara berjalan dengan sangat baik, menyenangkan dan peserta sangat aktif. Acara yang dipandu oleh Bp. Budi Prasojo, selaku moderator, berjalan sangat baik. Dalam paparannya, bapak Suwanto melaporkan bahwa Karir alumni ATMI di PT. Stanley sangat baik. Sampai saat ini ada sekitar 60an alumni yang bekerja di PT. Stanley, dari level teknisi sampai direktur. Secara khusus bapak Suwanto menjelaskan bahwa alumni ATMI level atau grade-nya disetarakan dengan lulusan S-1, dan dengan demikian bisa duduk dalam manajemen. Ada alumnus yang masih sangat muda, tetapi sudah menduduki jabatan Manager. Setali tiga uang dengan Stanley, Gudang Garam juga memperlakukan lulusan ATMI secara istimewa, grade-nya sama dengan lulusan S-1.

 Sebagai wakil orang tua wisudawan, Bp. Surip menyampaikak kesaksian tentang kesuksesan anak pertamanya, yang merupakan lulusan ATMi. Inti dari kesaksian yan disampaikan oleh Bp. Surip adalah bahwa menjadi lulusan ATMI tidak perlu resah soal pekerjaan dan kesuksesan hidupnya di kemudian hari. Pernyataan bapak Surip ini diamini oleh beberapa orang tua yang anakknya yang lain mengenyam pendidikan di ATMI. Kebanyakan orang tua yg pernah menguliahkan anaknya di ATMI, menjadi “ketagihan” untuk menyekolahkan anak lainnya di ATMI.

Succes story lulusan ATMI bukan isapan jempol saja. Hal ini dipertegas oleh data-data yang diungkapkan Bp. FX. Suryadi, bahwa ratio kesempatan kerja lulusan ATMI terhadap lowongan pekerjaan adalah 1:6. Artinya, setiap lulusan memiliki kesempatan bekerja di 6 lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh industri yang hadir dalam JobFair ATMI. Sampai saat ini, lulusan ATMI masih dicari perusahaan dan mudah mendapatkan pekerjaan serta memiliki kemampuan adaptif yang tinggi.

 

Alumni yang belum medapatkan pekerjaan itu terjadi karena adanya penumpukan pencari kerja, padahal perusahaan hanya membutuhkan jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhannya. Faktor lain adalah karena masalah teknis dimana rekrutmen masih dalam proses, dengan demikian belum ada keputusan dari industri apakah lulusan tersebut diterima atau ditolak karena memang masih inproses. Kadang ada industri yang membutuhkan waktu lama untuk proses rekrutmen tenaga kerja. Alumni yang belum mendapatkan pekerjaan sampai wisuda akan medapatkan pendampingan dari General Emloyee (GE), tim pendaming mahasiswa khususnya yang berkaitan dengan hubungan dengan industri, sampai mereka mendapatan pekerjaan. Dari 203 lulusan, 4 orang menyatakan melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, 199 sisanya memilih bekerja. Sebagian besar ikut industri tanah air yang sudah mapan, beberapa bekerja di Jepang dan beberapa wiraswasta, membuka usaha sendiri atau melanjutkan usaha orang tua.

 

Jadi benarlah kata-kata Bp. Surip bahwa menjadi lulusan ATMI tidak perlu resah soal pekerjaan dan kesuksesan hidupnya di kemudian hari.

 

 

 

 


22 Sep 2019 | by Yohanes Budi Prasojo