Hiduplah Sbg Sahabat Yang MENGASIHI Semua Orang

Sambil merenungkan tema Natal bersama antara KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia) dengan PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia): “Hiduplah sebagai Sahabat bagi Semua Orang”, saya membaca artikel Natal di Harian Kompas yang berjudul “Ale Rasa Sama dengan Beta Rasa”. Ya itu adalah filosofi hidup orang Maluku. Filosofi itu berarti ikut merasakan apa yang dirasakan sesama. Dalam konteks Natal, maknanya saling berbagi kebahagiaan kepada sesama saudara.

Momentum Natal hendaknya menjadi sarana menguatkan kembali keinginan mengunjungi dan menjumpai. Perjumpaan itu akan semakin membangun rasa saling percaya demi mengikatkan kembali persaudaraan yang sudah mulai luntur oleh individualistis dan ketegangan hidup beragama. Kardinal Ignatius Suharyo mengartikan tema itu sebagai upaya melawan arus ujaran kebencian, intoleransi, dan politik identitas. Bahkan baginya toleransi saja tidak cukup, kita harus bergerak dengan kasih.

Hal itu seperti hendak menggaris bawahi apa yang disampaikan Paus Fransiskus dalam pesan Natal. Paus mengajak untuk tidak menunggu orang lain berbuat baik. Kita diajak untuk proaktif dan bisa memulai melakukan hal-hal baik dari diri sendiri. Problem yang ada dalam diri dan institusi kita hendaknya tidak mengurangi kepekaan kita terhadap hal-hal yang digelar Tuhan di hadapan kita karena kita adalah bagian dari warga dunia dan tentunya juga warga Allah. Seraya membantu mencari solusi, kita perlu meningkatkan kepedulian pada orang lain dengan berperilaku adil, tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak berperilaku koruptif, konsumtif, dan pamer kekayaan. Itu semua dapat kita mulai dari diri kita masing-masing.

Serikat Yesus yang menaungi Kolese Mikael hendak mengajak kita mengkonkretkan bagaimana menjadi seorang Sahabat Bagi Yang Lain. Pertama-tama mengajak orang semakin kenal dan akrab dengan jalan yang ditunjukkan Tuhan. Jalan Tuhan tidak pernah keliru. Kitalah yang seringkali keliru memahami-Nya. Maka kemampuan mengolah, menimbang-nimbang dan selanjutnya memutuskan dengan tepat menjadi kunci proses mengimani jalan hidup baru yang ditawarkan Tuhan.

Kedua, segala bentuk ketidakadilan yang menimpa saudara-saudari kita, kemiskinan, orang yang martabatnya dirampas bukan berarti “Keallahan menyembunyikan diri”. Dalam sukacita Natal, kita diajak memahami cara pandang Allah yang mau menjadi manusia dalam Bayi yang terbatas. Bayi yang memberikan air hidup bagi kita. Pesona cinta mendalam Allah hendaknya menyalakan api dalam diri kita – yaitu api yang menyulut kobaran api-api yang lain! Jalan yang hendak kita tempuh adalah bersama orang miskin, telantar, pengungsi, yang dilecehkan, korban perdagangan. Pesona Allah itu hendaknya terus-menerus merasuk ke jantung hati kita dan menggerakkan kita berbuat lebih untuk mereka.

Ketiga, menemani kaum muda untuk menciptakan masa depan yang penuh harapan. Mengapa orang muda? Saat ini, orang muda menjadi tokoh utama transformasi melalui budaya digital yang membawa manusia menuju zaman baru. Zaman yang memunculkan perlunya penataan dimensi personal dan sosial. Serikat Yesus perlu memberikan kontribusi penting untuk menciptakan dan memelihara ruang-ruang terbuka bagi kaum muda supaya menggali kreatifitasnya secara arif baik dalam akademik, dalam hidup bermasyarakat dan menggereja. Ruang-ruang seperti itu yang dapat membantu mereka meraih kebahagiaan sekaligus memberi sumbangan bagi kesejahteraan semua umat manusia.

Keempat, berkolaborasi dalam merawat rumah kita bersama. Masih ingat apa yang disuarakan Greta Thunberg, gadis Swedia, aktivis lingkungan hidup. Ia dengan lantang mengatakan bahwa para generasi mapan memusnahkan masa depannya. Mereka kebakaran jenggot bila pertumbuhan ekonomi anjlok, tetapi apakah hal yang sama terjadi kalau satu orang saja mati akibat terpapar dampak kerusakan lingkungan? Dan kerusakan yang terjadi di bumi sangat nyata menimpa kelompok yang paling rentan, yaitu masyarakat adat, petani kecil, penduduk pinggiran kota.

Jelas tidak mudah menjadi Sahabat bagi Semua Orang, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Marilah kita mulai dengan mengubah gaya & cara hidup. Pelan-pelan kita akan mampu memandang dunia dan mencintainya seperti Allah memandang dan mencintai dunia ini.                                               

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *